fbpx

Mengajarkan Habluminannas Pada Anak

Semua manusia akan selalu menyandang dua peran yang tidak dapat dielakkan, yaitu sebagai makhluk individu dan makhuk sosial. Agar kedua peran tersebut dapat dijalankan dengan optimal dan seimbang, Islam sebagai din yang syumuliyah tentu memuat aturan atau petunjuk bagi manusia dalam hal tersebut. Dan Rosulullah sebagai tauladan kehidupan yang agung sudah memberikan panutan bagaimana menjalankan peran sebagai pribadi dan social dengan sempurna.

Banyak kita jumpai dalam siroh-siroh Nabi yang memperlihatkan bahwa beliau sebagai pribadi adalah sosok yang luar biasa dalam menjaga keseimbangan baik secara fisik jasmaninya, kecerdasan akalnya, kehebatan ibadahnya dan kemuliaan akhlaqnya.

Interaksi Anak
Mengajarkan Habluminannas Pada Anak

Begitu juga dengan hubungan sosial dengan siapapun, tidak hanya kepada orang tua, sahabat, anak kecil, yang tua, muda bahkan dengan orang yang membenci maupun musuh-musuhnya sekalipun. Tauladan yang sempurna dalam berhubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Sebagaimana dalam Firman Allah dalam Al Qur’an Surah Ali Imran (112), “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,”

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perepuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” ( QS Alhujurot : 13)

Dari dua ayat di atas sangat jelas bahwa Islam memandang hubungan dengan orang lain ini, sebagai hal pokok yang harus diperhatikan. Terbukti dengan anjuran ketika seseorang melakukan dosa dengan orang lain maka tidak hanya cukup memohon ampun kepada Allah saja tetapi juga harus meminta maaf kepada yang bersangkutan. Termasuk salah satu yang akan menghambat kita masuk Surga adalah masih punya hutang dengan orang lain. Dengan contoh-contoh ini jelas bahwa membina hubungan dengan orang lain ( bersosialisasi ) menjadi sangat penting. Sosialisasi ini akan terjalin dengan baik apabila dilatihkan sejak kecil. Karena masa balita adalah masa awal pembentukan karakter dan pendidikan dasar maka sosialisasi ini juga hendaknya mulai dilatihkan di masa balita ini juga.

Bersosialisasi di masa balita sangatlah penting bagi perkembangan anak. Ia menjadi lebih percaya diri dalam bergaul, tidak mementingkan diri sendiri, lebih baik dalam mengendalikan emosinya dan mandiri.

Sebelum anak dapat dengan santai dan spontan bersosialisasi dengan teman sebayanya, ia akan melalui masa adaptasi di lingkungan barunya. Kemampuan beradaptasi ini bersifat individual, yang antara lain dipengaruhi oleh usia, sifat dan pengalamannya dalam bersosialisasi.

Masa adaptasi bagi seorang anak biasanya berlangsung selama 1-3 minggu. Pada akhir periode ini anak sudah akan terbiasa dengan jadwal kegiatan, guru-guru serta teman sekelasnya. Ia akan mulai berpartisipasi dalam kegiatan bersama teman dan gurunya dengan santai dan spontan. Pada saat ini biasanya anak sudah bersedia berpisah dengan orang tuanya.

Namun, adakalanya adaptasi seorang anak membutuhkan waktu yang lebih lama. Sampai dua bulan setelah masuk sekolah ia masih selalu menangis jika berada di antara anak lain. Bahkan ibunya selalu harus berada di dekatnya. Jika hal ini yang terjadi, artinya sosialisasi anak di rumah dan di sekolah harus dikembangkan lebih baik.

Di sekolah, balita bisa bersosialisasi dengan banyak orang. Mulai dari teman sebayanya sampai orang dewasa. Akan banyak hal baru yang mereka pelajari dengan pergi ke sekolah. Pada awal-awal masuk sekolah, balita tentunya memerlukan adaptasi dengan lingkungannya. Di sini, peran kita sebagai orang tua sangat penting.

Untuk membiasakan balita kita dengan lingkungan baru, kita bisa memulainya dengan mengajarkan balita bersosialisasi mulai dari rumah. Jika sudah biasa, balita kita akan lebih cepat beradaptasi jika dihadapkan pada lingkungan baru.

Agar balita bisa bersosialisasi di sekolah, kita bisa memulainya dengan mengajarkan sopan santun padanya. Mulai dari mengucapkan terimakasih, maaf, tolong dan lainnya. Jika ia sudah terbiasa, hal tersebut akan ia terapkan juga saat ia berada di sekolah.

Selain sopan santun dalam bertutur, kita juga dapat membiasakan si kecil untuk sopan pada saat makan dan selalu bersikap baik kepada orang lain, baik itu teman sebayanya atau orang yang lebih tua. Ajarkan pula ia tentang berbagi. Hal ini akan membuatnya menjadi anak yang tidak egois.

Berbagi tidak hanya tentang mainan, tapi ajarkan pula tentang berbagi makanan, alat tulis, dan berbagi benda lainnya. kita bisa memberi pengertian padanya mengapa berbagi itu penting. Perlahan ia akan paham maksud kita dan dengan senang hati ia berbagi dengan temannya.

Saat bermain, kita dapat mengajarkan pentingnya bekerjasama dengan teman. Misalnya saat bermain pasir di taman, untuk membangun istana pasir diperlukan kerjasama agar pekerjaan itu cepat selesai.

Dalam bekerjasama tentunya sangat penting untuk menghargai dan memahami pendapat temannya. Beri pengertian secara perlahan pada balita kita bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dan berilah contoh bagaimana mengatasi permasalahan jika ada perbedaan pendapat.

Jika sedang berada di tempat umum, tanamkan pula budaya mengantri. Misalnya saja saat membeli tiket di suatu wahana permainan. Atau saat bermain ayunan di taman. Dalam hal ini, kesabaran balita Anda kan diuji. Berikan pengertian agar ia paham mengapa ia harus mengantri.

Untuk memperbaiki sosialisasi si kecil di sekolah dan agar anak mau berpisah dengan orang tuanya, perlu dukungan sepenuhnya dari orang tua dan guru kelas anak. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan.

  • Usahakan agar anak merasa dekat dengan salah satu guru kelasnya. Hal ini penting karena anak harus merasa ada orang dewasa lain yang dapat menggantikan orangtuanya yang tidak ada di tempat.
  • Jika pendekatan oleh guru tampak sulit dilakukan di sekolah, karena anak tidak mau membuka diri, undanglah guru beberapa kali ke rumah. Diharapkan anak mau lebih terbuka jika berada di lingkungan yang aman baginya.
  • Selama guru melakukan usaha pendekatan, sebaiknya orangtua berperan pasif. Anda dapat mendampingi anak namun tidak menaruh perhatian pada apa yang dilakukannya. Biarkan guru yang meladeni dan membantu anak. Meskipun anak mungkin belum bersedia mengikuti kegiatan, namun ia dapat dengan tenang mengobservasi apa yang terjadi di kelas. Anak usia 3 tahunan memang perlu melakukan observasi sebelum bergabung dalam sebuah kegiatan.
  • Jika anak terlihat sudah cukup santai dan dekat dengan gurunya, mungkin dapat dibicarakan dengan gurunya mengenai kemungkinan berpisah dengan orangtua untuk waktu yang singkat misalnya setengah jam.
  • Beri pengertian anak sebelum ia berangkat ke sekolah bahwa Anda akan pergi sebentar dan kemudian menjemputnya lagi. Pamitlah secara baik-baik pada anak dan guru sebelum Anda pergi. Orang tua yang pergi sembunyi-sembunyi justru akan membuat anak sangat takut. Ia bisa tidak percaya lagi pada Anda, dan akibatnya tak mau ditinggal sama sekali karena curiga akan ditinggal setiap saat. Datanglah tepat waktu ketika menjemput. Ini penting, juga untuk menjaga rasa percaya anak pada Anda.
  • Jika ditinggal untuk waktu yang pndek telah berhasil dengan baik, waktu berpisah dapat diperpanjang sampai anak akhirnya dapat mengikuti semua kegiatan yang diberikan di sekolah. Namun, pastikan lagi, anak selalu dijemput tepat waktu.
  • Jika anak terlihat sudah santai, maka sosialisasi dengan teman sekelas bisa dibantu dengan mengundang seorang teman yang disukai ke rumah. Dengan demikian anak akan lebih banyak mendapat kesempatan untuk berhubungan dengan temannya secara spontan dan santai, serta dalam lingkungan yang seluruhnya ada dalam pengendaliannya.

Selama proses adaptasi ini, orang tua sebaiknya mengambil sikap tenang dan bersabar ketika mendampingi  dan mengantar anak ke sekolah. Jangan mengancam anak, merendahkan harga dirinya, membuat anak merasa bersalah atau menuntut anak untuk bergabung dengan temannya kalau ia merasa belum siap. Terimalah apa adanya, sehingga anak pun akan bersikap tenang dan tetap mempunyai perasaan positif mengenai dirinya. Berilah ia waktu untuk belajar mengenali diri dan mengendalikan emosinya. Berikan pula kepercayaan padanya bahwa pada suatu saat ia akan dapat menanggulangi masalah kurang aman yang dihadapinya.

Mengajarkan balita bersosialisasi dibutuhkan kesabaran dari Anda. Jangan memaksanya jika ia masih terlihat takut. Bujuklah secara perlahan dan beri ia pengertian. Setelah terbiasa, ia pun akan lebih mudah bersosialisasi dengan teman-teman sebaya dan orang-orang disekitarnya.

Semoga dengan pendidikan sosialisasi sejak dini yang kita lakukan akan menjadikan bekal kelak dalam kehidupan kedepannya. Sehingga mampu mengantarkan bagi kesuksesannya baik dunia maupun akhiratnya. Aamiin.

Tinggalkan Balasan